Cerpen

Sebuah  kertas dengan tinta di atasnya. Hmm… maksudnya sebuah buku yang beraneka ragam dengan tulisan-tulisan sedang saya baca saat ini sambil memegang sebuah pena, dan siap untuk mengerjakan semua tugas yang telah diberikan oleh bapak ibu guru tercinta. Saya sudah seperti orang rajin sedunia karena dalam kam

ebuah  kertas dengan tinta di atasnya. Hmm… maksudnya sebuah buku yang beraneka ragam dengan tulisan-tulisan sedang saya baca saat ini sambil memegang sebuah pena, dan siap untuk mengerjakan semua tugas yang telah diberikan oleh bapak ibu guru tercinta. Saya sudah seperti orang rajin sedunia karena dalam kamar tidur yang sederhana itu, seharian hanya membolak-balik buku. Rajin bukan ? hehe..

Tapi, terkadang saya bosan dengan melihat semua buku ini dan tugas-tugas yang ada di depan mata saya. Namun, jika saya tak peduli dengan semua itu rasanya akan menyesal sendiri nantinya. Tak lama saya membaca buku, kemudian saya melihat ke arah jendela dengan gaya memegang jendela itu dengan tangan sebelah saya. Pemandangan di jalan raya memang seperti biasanya, mobil dan motor ibaratkan sedang berlomba untuk mencapai finishnya masing-masing.

Tiba-tiba mata saya terfokus pada kakek tua yang sedang ada di pinggir jalan dengan  memakai sebuah peci, badannya juga sudah membungkuk, kurus, rapuh namun semangat di jiwanya masih terlihat

secara jelas. Tetapi kepala saya ada yang menjanggal sepertinya muka kakek ini tidak asing lagi. Oh iya Itu kan guru ngaji saya kakek Abdulah namanya, waduhh.. gawat ini sepertinya otak saya harus dicuci terlebih dahulu.

Melihat kakek itu lalu memori saya berlari mundur mengingatkan masa lalu, waktu itu saya baru kelas 6 SD karena berkat kakek, hidup saya yang biasa saja mendapatkan hidayah yang tak ternilai harganya. Semua bermula dari sini dari rumah yang sangat sederhana.

Saya sedang menuju ke rumah kakek dan nenek Abdulah. Dari kejauhan sudah terdengar teman sebaya saya sudah mengalunkan suara merdunya membaca Al-Qur’an.

“Assalamualaikum…” sesampainya saya didepan pintu

“Waalaikumsalam…” jawab kedua pasangan sejati itu sambil tersenyum damai hehe..

Baruuu saja saya duduk, ehh tiba-tiba ada yang memanggil dengan suara kencang yang tidak asing lagi dikuping saya tanpa mengucapkan salam langsung terobos aja deh tuh pintu

“neeekkkkkk, nenekkkkk….. minta uang”

pasti itu yang mau dikatakannya, tidak adakah kata yang lain selain itu ?? bukan maksud untuk jelek-jelekin tapi pasti nanti kan terbiasa sampai dewasa. bisa dikategorikan dia termasuk nominasi anak yang nakal, Maklum aja deh baru kelas 2 SD. eh, iya namanya Ilham, dia adalah cucu kakek.

Lalu nenek menjawab “untuk apa uang terus, ilham ?”

Saya suka aksi nenek karena begitu tegas dengan cucunya. Tapi tiba-tiba kakek ikut menjawab.

“sudah tidak apa-apa, ini ilham uangnya tapi pergunakan untuk hal yang baik” jawab kakek dengan ramah.

Kakek yang satu ini benar benar.. setiap hari saya selalu melihat beliau sabar. Bagaimana saya tidak terhipnotis untuk menjadi orang yang sabar ?

Setelah mengaji selesai, saya dengan teman-teman pulang ke rumah. Kadang bermain dulu tapi juga kadang sibuk dengan masing-masing.

Beberapa hari kemudian…

Setelah melakukan berbagai aktivitas seharian, Seperti biasa setiap sore saya selalu menuju rumah kakek untuk mengaji. Tapi kali ini beda saya datang lebih awal dari yang lain. Tak lama kemudian saya melihat muka, kaki, tangan kakek dan nenek sudah dibasahi oleh air yang bersih.

”cepat sekali datangnya” kata kakek.

“hehe  tak ada kerjaan kek, jadi langsung ngaji” jawab saya sambil nyengir-nyengir.

“baiklah kalau begitu kami shalat dulu”

“ohh iya kek” sahut saya.

Dalam hati saya bicara, kenapa saya yang masih muda ini saja tidak shalat sedangkan mereka …

Saya tak melanjutkan kata-kata itu.

Hingga suatu hari ada pertengkaran dirumah kecil itu, antara ilham, nenek dan kakek. Seperti biasa ilham ingin meminta uang lagi tapi entah mengapa hari itu beda.

“nek, minta uang ?”

“untuk apa lagi ?” kali ini kakek yang menjawab

“ada yang mau dibeli”

“uang kita pas-pasan ilham kalau kamu minta uang terus, apa kamu tidak kasihan melihat nenek dan kakek”

”sama cucu sendiri pelit banget, masa’ gag pernah dikasih“ kata ilham sambil cemberut.

“nanti saja, kita belum ada uang”

“kakek! Uang aja gag dikasih, gag  pernah buat ilham seneng  dikit, dasar sudah tua” katanya sambil marah-marah.

Lalu kakek dan nenek sangat terkejut “astaghfirullah…”

Tapi kami ikut membela “ilham jangan kurang ajar dengan kakek dan nenek kamu sendiri!”

Tapi diabaikannya, lalu ilham menendang sesuatu sampai membuat orang terkejut dan menghempaskan pintu. Kami semua sangat terkejut mendengarnya dan ikut sedih melihat semua ini, padahal dia baru kelas 2 SD tapi kenapa sifatnya begitu seperti anak yang sangat kurang ajar. Seketika itu kami langsung melihat kakek dan nenek.

“biarkan saja dia, supaya dia belajar menerima keadaan” kata nenek dengan sangat tegasnya.

Tapi, disisi lain mata saya melihat kakek tertunduk lesu seperti sedang diterjang oleh seribu pisau yang begitu menusuk. Kasian kakek…
ilham memang sudah begitu wataknya begitu keras dan sangat cepat naik darah, berbeda dengan kakek. Sangat takut jika suatu hari ilham semakin menjadi-jadi.

Lamunan saya yang sangat serius itu terhenti sampai disana dan otak saya berputar dengan cepat mengalahkan kecepatan apapun di dunia ini, ketika ibu saya memanggil. Dia menyuruh saya untuk mengangkat jemuran yang ada di belakang. Ketika itupun saya langsung tancap gas untuk membantu ibu, karena jika ibu bangga sayapun akan bahagia.

Setelah selesai sayapun teringat tentang hal tadi. Semenjak kejadian itu, saya banyak belajar betapa sedihnya jika itu saya yang mengalami nanti. Namun, bukan itu saja pelajaran yang penting menurut saya. Karena ketika mengaji dirumah kakek adalah suatu hidayah yang begitu besar karena secara tidak langsung kakek telah mengajarkan saya sebuah pelajaran yang sangat berharga.

Semenjak itu perlahan-lahan saya mulai shalat, bersikap sabar, meskipun belum sepenuhnya saya tetap berusaha. Pokoknya banyak sekali pelajaran walau dicari dibukupun tidak akan ada, walaupun ada tidak akan sama J karena ini limited edition hehe…

Eitsss, ceritanya belum berakhir sampai di sini. Ada lagi, sekarang 3 tahun telah berlalu saya tidak lagi mengaji di tempat kakek, namun masih sering bertemu. Ketika itu, saya dan kakek bertemu lalu saya menyapanya.

“Assalamualaikum… kek” sapa saya sambil bersalaman.

“Waalaikumsalam…” jawab kakek sambil tersenyum.

“sedang apa kesini kek ?”

“membeli sayur untuk buka puasa”

“ohh kakek puasa ? sebentar lagi akan Adzan Maghrib kek.”

“iya, kakek pulang dulu”

“baiklah kek, hati-hati di jalan”

Lalu kakek berjalan dengan begitu rapuhnya, sampai di ujung jalanpun saya tetap melihat kakek, hingga kakek terus menyusuri jalan sampai akhirnya tak terlihat lagi. Lalu sayapun pulang.

Keesokan harinya …

Terdengar anak-anak sedang mengaji di Masjid, syukurlah kalau ada anak-anak yang mengaji di setiap ingin menjelang Adzan Maghrib. Tiba-tiba ada teman yang mengajak untuk shalat di Masjid, kebetulan saya juga sudah lama tidak ke Masjid. Saya bersiap-siap dan kami langsung pergi.

Setelah sampai, saya terkejut ternyata begitu ramai dengan anak-anak dan satu orang tua. Saya perhatikan ternyata itu kakek yang sedang mengajar ngaji. Sungguh begitu damai hati saya melihat pemandangan ini, ternyata begitu banyak murid kakek. Tak bisa diungkapkan oleh kata-kata karena begitu bahagianya.

Saat adzan akan tiba orang-orangpun berdatangan. Kali ini saya dikejutkan lagi oleh sesuatu, ternyata yang mengumandangkan adzan adalah cucu kakek, ilham. Saya benar-benar takjub bahkan ilham yang seperti dulu saja bisa diubah kakek menjadi seperti ini, kakek.. kata-kata apalagi yan    g harus saya ucapkan kakek memang benar-benar hebat.

Saya sangat senang moment-moment ini karena semua orang damai mendengarkan adzan termasuk saya. Tak lama kemudian adzanpun berakhir. Kami semuapun shalat setelah itu berdoa, dan kami semua bersalaman lalu pulang. Ditengah jalan saya berhenti sejenak sambil berkata

“Tuhan Mahabesar Engkau yang telah memberi kesempatan saya untuk melihat, merasakan dan mempelajari semua ini. sungguh bahwa masih banyak kesempatan jika kita memang ingin bersungguh-sungguh.”

Alhamdulillah… begitu damai hati ini.

Terinspirasi dari Seorang Kakek Tua ^^

ar tidur yang sederhana itu, seharian hanya membolak-balik buku. Rajin bukan ? hehe..

Tapi, terkadang saya bosan dengan melihat semua buku ini dan tugas-tugas yang ada di depan mata saya. Namun, jika saya tak peduli dengan semua itu rasanya akan menyesal sendiri nantinya. Tak lama saya membaca buku, kemudian saya melihat ke arah jendela dengan gaya memegang jendela itu dengan tangan sebelah saya. Pemandangan di jalan raya memang seperti biasanya, mobil dan motor ibaratkan sedang berlomba untuk mencapai finishnya masing-masing.

Tiba-tiba mata saya terfokus pada kakek tua yang sedang ada di pinggir jalan dengan  memakai sebuah peci, badannya juga sudah membungkuk, kurus, rapuh namun semangat di jiwanya masih terlihat


secara jelas. Tetapi kepala saya ada yang menjanggal sepertinya muka kakek ini tidak asing lagi. Oh iya Itu kan guru ngaji saya kakek Abdulah namanya, waduhh.. gawat ini sepertinya otak saya harus dicuci terlebih dahulu.

Melihat kakek itu lalu memori saya berlari mundur mengingatkan masa lalu, waktu itu saya baru kelas 6 SD karena berkat kakek, hidup saya yang biasa saja mendapatkan hidayah yang tak ternilai harganya. Semua bermula dari sini dari rumah yang sangat sederhana.

Saya sedang menuju ke rumah kakek dan nenek Abdulah. Dari kejauhan sudah terdengar teman sebaya saya sudah mengalunkan suara merdunya membaca Al-Qur’an.

“Assalamualaikum…” sesampainya saya didepan pintu

“Waalaikumsalam…” jawab kedua pasangan sejati itu sambil tersenyum damai hehe..

Baruuu saja saya duduk, ehh tiba-tiba ada yang memanggil dengan suara kencang yang tidak asing lagi dikuping saya tanpa mengucapkan salam langsung terobos aja deh tuh pintu

“neeekkkkkk, nenekkkkk….. minta uang”

pasti itu yang mau dikatakannya, tidak adakah kata yang lain selain itu ?? bukan maksud untuk jelek-jelekin tapi pasti nanti kan terbiasa sampai dewasa. bisa dikategorikan dia termasuk nominasi anak yang nakal, Maklum aja deh baru kelas 2 SD. eh, iya namanya Ilham, dia adalah cucu kakek.

Lalu nenek menjawab “untuk apa uang terus, ilham ?”

Saya suka aksi nenek karena begitu tegas dengan cucunya. Tapi tiba-tiba kakek ikut menjawab.

“sudah tidak apa-apa, ini ilham uangnya tapi pergunakan untuk hal yang baik” jawab kakek dengan ramah.

Kakek yang satu ini benar benar.. setiap hari saya selalu melihat beliau sabar. Bagaimana saya tidak terhipnotis untuk menjadi orang yang sabar ?

Setelah mengaji selesai, saya dengan teman-teman pulang ke rumah. Kadang bermain dulu tapi juga kadang sibuk dengan masing-masing.

Beberapa hari kemudian…

Setelah melakukan berbagai aktivitas seharian, Seperti biasa setiap sore saya selalu menuju rumah kakek untuk mengaji. Tapi kali ini beda saya datang lebih awal dari yang lain. Tak lama kemudian saya melihat muka, kaki, tangan kakek dan nenek sudah dibasahi oleh air yang bersih.

”cepat sekali datangnya” kata kakek.

“hehe  tak ada kerjaan kek, jadi langsung ngaji” jawab saya sambil nyengir-nyengir.

“baiklah kalau begitu kami shalat dulu”

“ohh iya kek” sahut saya.

Dalam hati saya bicara, kenapa saya yang masih muda ini saja tidak shalat sedangkan mereka …

Saya tak melanjutkan kata-kata itu.

Hingga suatu hari ada pertengkaran dirumah kecil itu, antara ilham, nenek dan kakek. Seperti biasa ilham ingin meminta uang lagi tapi entah mengapa hari itu beda.

“nek, minta uang ?”

“untuk apa lagi ?” kali ini kakek yang menjawab

“ada yang mau dibeli”

“uang kita pas-pasan ilham kalau kamu minta uang terus, apa kamu tidak kasihan melihat nenek dan kakek”

”sama cucu sendiri pelit banget, masa’ gag pernah dikasih“ kata ilham sambil cemberut.

“nanti saja, kita belum ada uang”

“kakek! Uang aja gag dikasih, gag  pernah buat ilham seneng  dikit, dasar sudah tua” katanya sambil marah-marah.

Lalu kakek dan nenek sangat terkejut “astaghfirullah…”

Tapi kami ikut membela “ilham jangan kurang ajar dengan kakek dan nenek kamu sendiri!”

Tapi diabaikannya, lalu ilham menendang sesuatu sampai membuat orang terkejut dan menghempaskan pintu. Kami semua sangat terkejut mendengarnya dan ikut sedih melihat semua ini, padahal dia baru kelas 2 SD tapi kenapa sifatnya begitu seperti anak yang sangat kurang ajar. Seketika itu kami langsung melihat kakek dan nenek.

“biarkan saja dia, supaya dia belajar menerima keadaan” kata nenek dengan sangat tegasnya.

Tapi, disisi lain mata saya melihat kakek tertunduk lesu seperti sedang diterjang oleh seribu pisau yang begitu menusuk. Kasian kakek…
ilham memang sudah begitu wataknya begitu keras dan sangat cepat naik darah, berbeda dengan kakek. Sangat takut jika suatu hari ilham semakin menjadi-jadi.

Lamunan saya yang sangat serius itu terhenti sampai disana dan otak saya berputar dengan cepat mengalahkan kecepatan apapun di dunia ini, ketika ibu saya memanggil. Dia menyuruh saya untuk mengangkat jemuran yang ada di belakang. Ketika itupun saya langsung tancap gas untuk membantu ibu, karena jika ibu bangga sayapun akan bahagia.

Setelah selesai sayapun teringat tentang hal tadi. Semenjak kejadian itu, saya banyak belajar betapa sedihnya jika itu saya yang mengalami nanti. Namun, bukan itu saja pelajaran yang penting menurut saya. Karena ketika mengaji dirumah kakek adalah suatu hidayah yang begitu besar karena secara tidak langsung kakek telah mengajarkan saya sebuah pelajaran yang sangat berharga.

Semenjak itu perlahan-lahan saya mulai shalat, bersikap sabar, meskipun belum sepenuhnya saya tetap berusaha. Pokoknya banyak sekali pelajaran walau dicari dibukupun tidak akan ada, walaupun ada tidak akan sama J karena ini limited edition hehe…

Eitsss, ceritanya belum berakhir sampai di sini. Ada lagi, sekarang 3 tahun telah berlalu saya tidak lagi mengaji di tempat kakek, namun masih sering bertemu. Ketika itu, saya dan kakek bertemu lalu saya menyapanya.

“Assalamualaikum… kek” sapa saya sambil bersalaman.

“Waalaikumsalam…” jawab kakek sambil tersenyum.

“sedang apa kesini kek ?”

“membeli sayur untuk buka puasa”

“ohh kakek puasa ? sebentar lagi akan Adzan Maghrib kek.”

“iya, kakek pulang dulu”

“baiklah kek, hati-hati di jalan”

Lalu kakek berjalan dengan begitu rapuhnya, sampai di ujung jalanpun saya tetap melihat kakek, hingga kakek terus menyusuri jalan sampai akhirnya tak terlihat lagi. Lalu sayapun pulang.

Keesokan harinya …

Terdengar anak-anak sedang mengaji di Masjid, syukurlah kalau ada anak-anak yang mengaji di setiap ingin menjelang Adzan Maghrib. Tiba-tiba ada teman yang mengajak untuk shalat di Masjid, kebetulan saya juga sudah lama tidak ke Masjid. Saya bersiap-siap dan kami langsung pergi.

Setelah sampai, saya terkejut ternyata begitu ramai dengan anak-anak dan satu orang tua. Saya perhatikan ternyata itu kakek yang sedang mengajar ngaji. Sungguh begitu damai hati saya melihat pemandangan ini, ternyata begitu banyak murid kakek. Tak bisa diungkapkan oleh kata-kata karena begitu bahagianya.

Saat adzan akan tiba orang-orangpun berdatangan. Kali ini saya dikejutkan lagi oleh sesuatu, ternyata yang mengumandangkan adzan adalah cucu kakek, ilham. Saya benar-benar takjub bahkan ilham yang seperti dulu saja bisa diubah kakek menjadi seperti ini, kakek.. kata-kata apalagi yan    g harus saya ucapkan kakek memang benar-benar hebat.

Saya sangat senang moment-moment ini karena semua orang damai mendengarkan adzan termasuk saya. Tak lama kemudian adzanpun berakhir. Kami semuapun shalat setelah itu berdoa, dan kami semua bersalaman lalu pulang. Ditengah jalan saya berhenti sejenak sambil berkata

“Tuhan Mahabesar Engkau yang telah memberi kesempatan saya untuk melihat, merasakan dan mempelajari semua ini. sungguh bahwa masih banyak kesempatan jika kita memang ingin bersungguh-sungguh.”

Alhamdulillah… begitu damai hati ini.

Terinspirasi dari Seorang Kakek Tua ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s